Uniknya Upacara Pernikahan Tradisional Dari Berbagai Belahan Dunia

Uniknya Upacara Pernikahan Tradisional Dari Berbagai Belahan Dunia

Bouttface.com | Sebagai momen indah penyatuan dua insan yang saling mencintai, pernikahan selalu dianggap sebagai sebuah peristiwa sakral. Oleh karenanya, tak heran jika dalam pelaksanaanya, pernikahan kerap di warnai beragam tradisi yang sarat akan makna filosofis di dalamnya. Tradisi-tradisi ini biasa tercermin dari upacara pernikahan tradisional yang mengiringinya.

Nah, tak kalah filosofis dengan upacara pernikahan tradisional yang ada di Indonesia, di berbagai belahan dunia lain pun terdapat upacara pernikahan tradisional yang begitu filosofis dan membuat peristiwa pernikahan semakin tak terlupakan. Penasaran seperti apa? Check this out!

1. Upacara Pernikahan Tradisional di India

Seperti yang biasa kita lihat dalam berbagai film India, pernikahan tradisional ala India memang unik dan berbeda. Perbedaan ini tak hanya terlihat jelas dari pakaian pengantin perempuan berupa kain sari merah dan menhdi yang menghiasi tangan cantiknya.

Pada pernikahan ala India, prosesi upacara pernikahan akan di mulai dengan prosesi pooja, yakni ritual doa untuk kedua mempelai yang di pimpin langsung oleh pendeta. Setelah prosesi ini, barulah proses tukar cincin dan tukar rangkaian bunga yang dilakukan oleh kedua mempelai, yang kemudian dilanjutkan dengan mengelilingi altar sebanyak tiga kali seperti yang biasa kita lihat dalam film-film India. Begitu altar selesai dikelilingi, artinya kedua mempelai resmi berstatus sebagai pasangan suami istri. 

Acara selanjutnya adalah proses jamuan dari mempelai dan keluarga untuk para tamu undangan yang telah hadir. Pada momen jamuan ini, para tamu undangan akan dipersilahkan duduk berderet di tempat yang telah disediakan. Setelah itu, para pramusaji akan berjalan secara berurutan mengisikan makanan untuk para tamu undangan ke atas daun pisang, dimulai dari nasi, lauk-pauk, hingga sambal khas dari ampas kelapa. 

Uniknya, para pramusaji ini akan langsung mengisi kembali setiap makanan yang telah habis tanpa perlu diminta. Untuk itu, tamu undangan diwajibkan untuk segera menggulung daun pisang jika perut sudah terasa kenyang.

2. Upacara Pernikahan Tradisional di China

Berbeda dengan upacara pernikahan di India, di China tradisi justru sudah mewarnai pernikahan seminggu sebelum pernikahan itu sendiri diadakan. Ya, begitu prosesi lamaran selesai di gelar, kamar pengantin akan segera dihias seminggu sebelum prosesi pernikahan dilangsungkan dengan dominasi warna merah. 

Di hari pernikahan mempelai laki-laki akan menjemput mempelai perempuan untuk kemudian berdoa bersama menghormati langit, bumi, dan arwah leluhur mereka. Setelahnya, acara akan dilanjutkan dengan jamuan bagi para tamu. 

Mempelai akan membuka acara jamuan ini dengan meminum anggur dari cawan yang terhubung dengan seutas benang merah sebagai simbol keselarasan dalam hidup.

3. Upacara Pernikahan Tradisional di Jepang

Selain terkenal sebagai negri sakura, jepang juga terkenal dengan kepercayaam Shinto-nya. Kepercayaan ini ternyata berpengaruh cukup signifikan lho terhadap kehidupan masyarakat disana, salah satunya untuk ritual upacara pernikahan tradisional mereka.

Tak hanya terlihat kental pada upacara pernikahanya, pengaruh kepercayaan Shinto ternyata sampai berimbas pada hari yang dipilih  untuk menghelat pernikahan. Berdasarkan kalender kepercayaan Shinto, terdapat hari-hari tertentu yang sangat baik dan membawa keberuntungan untuk setiap aktivitas dan ritual yang dilakukan. Hari-hari tersebut semacam 'hari baik' dalam kepercayaan masyarakat kita. Tak heran, dengan tingginya terhadap 'hari baik' ini, mudah sekali menemukan lusinan pasangan yang menghelat pernikahan mereka di 'hari berlabel baik' itu.

Di hari pernikahan, upacara akan dimulai dengan pemurnian pasangan oleh pendeta Shinto. Ritual akan berlanjut dengan ritual san-sankudo, dimana mempelai perempuan dan pria masing-masing bergiliran menghirup sake sebanyak sembilan kali dari tiga cangkir yang tersedia. Setelahnya, janji suci pernikahan pun di ucapkan oleh kedua mempelai. Selanjutnya, anggota keluarga kedua mempelai akan saling bergantian minum sake, sebagai penanda persatuan kedua keluarga melalui pernikahan. 

Upacara kemudian di akhiri dengan memberi sesaji berupa ranting Sasaki untuk Dewa Shinto. Konon, hal ini di tunjukan untuk mengusir roh-roh jahat.

4. Upacara Pernikahan Tradisional di Jerman

Berbeda dengan masyarakat Jepang yang bergantung pada kalender Shinto untuk menentukan hari pernikahanya, pasangan di Jerman umumnya tidak terlalu pusing memikirkan tanggal pernikahan mereka, selama masih dalam bulan Mei. Ya, di negri BMW ini bulan mei memang di percaya menjadi bulan terbaik untuk melangsungkan pernikahan. 

Ada banyak tradisi yang mewarnai upacara pernikahan di negri ini, tergantung dari wilayah tempat mereka tinggal. Di daerah Bonn misalnya, memecahkan piring menjadi tradisi pernikahan yang urung absen dari upacara pernikahan tradisional masyarakatnya.

Memecahkan piring? Ya, memecahkan piring. So jangan herang jika di tengah-tengah khidmatnya pesta terdengan suara 'perang kecil kecilan' karena ada banyaknya piring dan ember yang sedang di pecahkan. Masyarakat Jerman percaya, tradisi pecah piring ini akan membuang sial dan menjauhkan pasangan pengantin dari hal-hal tak diinginkan. 

5. Upacara Pernikahan Tradisional di Italia

Lain di Jepang, lain di Jerman, lain pula di Italia. Masyarakat negri cappuccino ini percaya, hari Minggu pagi selalu menjadi hari terbaik untuk melangsungkan pernikahan. Hal ini berdasar pada kepercayaan mereka bahwa hari Jumat dan hari Selasa akan membawa beragam ketidakberuntungan dalam kehidupan rumah tangga, sedangkan hari sabtu adalah hari khusus untuk pernikahan bagi para janda. 

Berbeda dengan tradisi di negri lain dimana pengantin perempuan dirias secantik mungkin, di Italia para pengantin perempuan tak perlu dirias karena nantinya mereka di wajibkan memakai kerudung untuk menutupi wajahnya. Kerudung ini dipakai sebagai simbol keperawanan pengantin. Sedangkan untuk mempelai pria ada kewajiban untuk mengantongi besi kecil di jas pengantinya. Besi ini di percaya mampu mengusir roh jahat yang akan mengganggu pernikahanya.

3 Komentar

  1. Weih ... Piring, ember, dipecahkan semua, ntar dibeli lagi. Sayang kan. He he ... Tapi tak apa Jerman, mungkin termasuk negara kaya. Terima kasih telah berbagi informasi, Mbak Grilee.

    BalasHapus
  2. Pernikahan yang unik dari beberapa negara...keren...

    BalasHapus
  3. Haha yg paling unik dijerman sih,, mecahin piring aduuhh,,,, hari gini masih pake cara gituan hehe

    BalasHapus

Posting Komentar